Menu
kabarpetang media

KINI Terkuak Penyakit Jedar saat Hamil, Pantas Istri Vincent Verhaag Ketar-ketir: Ancam Jiwa Ibu & Janin

  • Share

Akhirnya Jessica Iskandar atau Jedar mengungkap penyakitnya saat hamil.

Pantas istri Vincent Verhaag itu merasa khawatir di kehamilan keduanya.

Apa penyakit yang pernah diidap Jedar itu?

Menjelang persalinannya, sosok Jessica Iskandar atau Jedar menjadi sorotan.

Di usia kandungannya yang masuk delapan bulan, Jedar sudah memutuskan akan melahirkan di Jakarta meskipun dirinya kini menetap di Bali.

Alasan dari keadaan tersebut ternyata bukan tanpa pertimbangan matang.

Semua dilakukan Jessica karena dirinya diketahui mengidap sebuah penyakit.

Jessica Iskandar saat ini menjadi perbincangan karena kehamilannya yang tak biasa

Ibunda El Barack itu mengidap penyakit yang membuat emosinya naik dan turun.

Jedar rupanya pernah mengidap penyakit Hellp Syndrome saat hamil putra pertamanya, El Barack.

Sehingga kini ia memutuskan untuk melahirkan di Jakarta dengan fasilitas yang baik.

Secara blak-blakan sahabat Nia Ramadhani tersebut mengaku ternyata memiliki sebuah penyakit.

“Kenapa di Jakarta, karena aku punya riwayat Hellp Syndrome waktu hamil El Barack, jadi kemarin tuh pengin periksa lebih detail saja, jadi datang ke Jakarta, dan ternyata semua lancar,” kata Jessica Iskandar saat ditemui di Studio Trans TV, Tendean, Jakarta Selatan, Senin (18/4/2022) lalu.

Berdasarkan keterangan dokter yang disampaikan kepadanya, syndrome tersebut ia dapatkan karena saat hamil El Barack kondisi emosi Jedar tidak stabil.

“Jadi tenyata dulu Hellp Syndrome itu dari emosi ibunya, sekarang mungkin happy, jadi Tuhan kasih kelancaran, semua lancar-lancar saja,” tutur Jedar.

Kondisi mental Jessica Iskandar tersebut membuat Vincent Verhaag khawatir.

Sehingga ia pun memutuskan membawa sang istri untuk menetap sementara waktu di Jakarta.

Kemudian, Jessica Iskandar sendiri tampaknya sudah mengantisipasi hal itu jangan sampai terjadi.

Setelah melakukan proses persalinan nanti, Jessica Iskandar akan segera pulang ke Bali lantaran telah menyiapkan kamar baru untuk putra keduanya yang akan lahir beberapa waktu kedepan.

“Sesudah sebulan kami terbang lagi ke Bali,” tuturnya.

Lalu, apa itu Hellp Syndrome?

Dikutip TribunJatim.com dari GridHealth, Hellp Syndrome atau Sindrom HELLP ditemukan oleh Dr. Louis Weinstein pada tahun 1982, yang memiliki arti, H (Hemolysis, yaitu hancurnya sel darah merah), EL (Elevated Liver-enzymes, yaitu peningkatan enzim hati), serta LP (Low Platelet –Count, yaitu trombosit rendah).

Sindrom HELLP merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang paling ditakuti ibu hamil karena bisa mengancam jiwa ibu bahkan janinnya.

Biasanya terjadi di usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau saat memasuki trimester kedua, bahkan setelah melahirkan.

Dilansir dari situs WHO, angka kematian global pada ibu hamil karena sindrom HELLP telah mencapai 25 % per tahun.

Maka penting bagi ibu hamil untuk menyadari gejalanya dan mendapati penanganan yang tepat.

Di Amerika Serikat, 5-8 % wanita hamil mengalami preeklamsia dan 15 % diantaranya mengalami sindrom HELLP.

Artinya, sebanyak 48.000 wanita hamil di Amerika Serikat berisiko terkena sindrom HELLP per tahunnya.

Sindrom HELLP biasanya dikenal sebagai preeklamsia berat, ditandai dengan tekanan darah tinggi dan naiknya kadar protein dalam urin ibu hamil.

Angka statistik global menunjukkan, di antara perempuan yang mengalami preeklamsia berat, sekitar 20 % akan terkena sindrom HELLP.

Jika ibu hamil menderita HELLP pada kehamilan sebelumnya, berisiko lebih besar mengalami juga di kehamilan berikutnya.

Sindrom HELLP biasanya berkembang pada trimester ketiga, tapi bisa terjadi lebih awal pada kehamilan atau bahkan setelah bayi lahir.

Gejala HELLP bisa terasa seperti flu pada awalnya.

Beberapa ibu hamil yang mengalami sindrom HELLP biasanya juga akan mengalami beberapa gejala.

Gejala-gejala tersebut adalah mual, muntah, rasa sakit setelah makan, mata berkunang-kunang, perdarahan, pembengkakan pada kaki, tangan, dan daerah lainnya.

Bila sudah gawat akan ditandai dengan kejang-kejang.

Semua ibu hamil berisiko terkena sindrom HELLP.

Namun yang paling rentan adalah ibu hamil dengan riwayat tekanan darah tinggi, stroke, atau gangguan hati.

Maka itu, pemeriksaan tekanan darah dan urin dirasa sangat penting selama kehamilan.

Bila sindrom HELLP membuat tekanan darah ibu hamil melonjak sangat tinggi, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa keduanya adalah mengeluarkan janin.

Bagi janin yang lahir premature atau beratnya kurang dari 2 kilogram maka akan mendapatkan perawatan intensif.

Meski begitu, presentase keselamatan bayi prematur bisa dibilang 50-50 karena organ-organ yang belum matang.

Selain upaya pengeluaran janin, ibu hamil yang dinyatakan terkena HELLP bisanya terlebih dahulu disarankan melakukan beberapa jenis transfusi darah.

Tanpa transfusi, jumlah trombosit yang rendah bisa membuat ibu hamil berisiko kehilangan terlalu banyak darah selama kelahiran bayi.

Dokter biasanya akan merekomendasikan pengobatan untuk memperkuat paru-paru janin bila memang dibutuhkan.

Sumber : jatim.tribunnews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.