Menu
kabarpetang media

Istri Hanung Bramantyo Terbaring Lemah, Zaskia Adya Mecca Sempat 2 Hari Susah Tidur Gegara Ini

  • Share

Artis Zascia Adya Mecca saat ini terbaring lemah.

Istri sutradara Hanung Bramantyo ini bahkan diinfus. Tak hanya itu Zascia Ady Mecca malah mengungkapkan ia tak bisa tidur selama dua hari.

Meski begitu wanita berhijab ini mengambil hikmah atas sakit yang ia derita.

Dimana ia harus istirahat agar staminanya kembali pulih.

Hal ini diketahui lewat unggahannya di laman instagram miliknya @zaskiaadyamecca

Menurutnya dari hasil pemeriksaan ia terserang penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD.

Zascia Adya Mecaa ditemani Hanung Bramantyo

Zaskia mengunggah potret selfie wajahnya dan terlihat juga selang infus yang menempel pada tangan kirinya.

Dalam keterangannya Zaskia tengah diberikan ujian oleh Allah melewati penyakit yang dideritanya kini.

“Di minta istirahat dulu sama Allah, diingetin lewat nyamuk 2 hari sakit kepala hebat pdhl da minum obat tapi ga ilang sakitnya plus ngilu seluruh badan..,” tulis Zaskia, dikutip dari laman Instagram pribadi miliknya, Sabtu (30/10/2021).

Bahkan dirinya merasakan gejala lain seperti pusing-pusing dan mual.

“2 hari pula ga bisa tidur sama sekali. Perut mulai mual, tadinya mau rawat RS tapi sibuk mikir gmn Kama nyusunya…,” ungkap Zaskia.

Sang kakak, Tasya Nur Medina lantas segera mengirim perawat untuk merawat sang adik di rumahnya.

Meskipun demikian, Zaskia tetap mengalami beberapa gejala yang membuatnya tidak bisa tidur.

“Sepanjang malam tadi ga bisa tidur pdhl sudah infusan dan minum obat.. ku sedih banget, ngebayang gimana rasa orang yang kena db tapi ga mampu buat ke rs, beli obat apalagi layanan home care,” lanjutnya.

Terakhir ibu lima anak itu meminta doa agar trombosit di dalam tubuhnya tidak turun secara drastis dan dirinya dapat diberikan kesembuhan.

“Mohon doasupaya trombosit ga terjun bebas (ini masih hari ke dua) dan ku segera pulih, makasih semua,” tutup Zaskia Mecca.Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Zaskia Adya Mecca Terserang DBD, Susah Tidur Selama 2 Hari, Alami Mual dan Pusing,

Waspadai DBD, Tampungan Air Berpotensi Jadi Sarang Nyamuk

Penyakit deman berdarah dengue (DBD) di masa pendemi tetap harus diwaspadai mengingat bahayanya bisa mengancam kematian. Pencegahan pembasmian jentik nyamuk, telor juga nyamuk dewasa adalah langkah jitu menghindari DBD.

Kementerian Kesehatan melaporkan orang yang terdampak DBD mencapai 35.101 orang di 2017, tahun 2018 mencapai 21.861 orang dan 2019 mencapai 112.954 orang dan hingga Juli 2020 mencapai 71,633 orang.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan penderita DBD tertinggi saat ini.

Ada 10 provinsi yang melaporkan jumlah kasus terbanyak di Indonesia dengan rincian Jawa Barat 10.772 kasus, Bali 8.930 kasus, Jawa Timur 5.948 kasus, NTT 5.539 kasus, Lampung 5.135 kasus, DKI Jakarta 4.227 kasus, NTB 3.796 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus, Yogyakarta 2.720 kasus, dan Riau 2.255 kasus.

Muallif, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Seluruh Indonesia (DPP-Aspphami) mengungkapkan, musim penghujan sesuai dengan perkiraan Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG) di tahun 2021 bisa berlangsung hingga bulan juni.

Hal ini dapat menyebabkan adanya sisa genangan air hujan di mana-mana seperti di pot bunga, kaleng, atau apapun yang bisa menjadi wadah air. Nyamuk biasanya senang dengan air bersih tertampung yang disebutkan tadi.

“Kami mendorong pemerintah buat program terkait DBD. Jangan yang sifatnya kuratif, melainkan preventif demi kebaikan dan kesehatan bersama,” kata Muallif di Jakarta, Jumat (29/1/2021).

Dia menjelaskan, program pencegahan DBD dapat meminimalisir jatuhnya angka pasien yang terdampak DBD. Mengingat angka yang terkena DBD di 2019 cukup tinggi.

Karena itu, pemerintah perlu melakukan edukasi dan sosialisasi langkah pencegahan ke masyarakat dengan menggalakkan 3M, yaitu, menguras, menutup, dan memanfaatkan barang bekas agar tidak menjadi tempat tinggal nyamuk serta segala bentuk pencegahan lainnya.

Menguras adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain sebagainya.

Sementara, menutup berupa upaya menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya. Lalu, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.

“Ini biayanya lebih murah dan terjangkau dibandingkan biaya pengobatan DBD dan bisa dikendalikan,” katanya.

Di 2016 lalu, Kementerian Kesehatan menganggarkan Rp56,3 miliar untuk pengendalian penyakit DBD.

“Karena adanya keterbatasan anggaran pemerintah dimasa pandemi ini, kami ASPPHAMI mengajak pihak swasta maupun masyarakat untuk berperan serta terhadap pencegahan dan pengendalian nyamuk DBD ini,” ujarnya.

Seiring masih terdampaknya pandemi. Pihaknya berpengalaman dalam menangani penyemprotan desinfektan. Seharusnya, kata dia, penyemprotan desinfektan melibatkan Aspphami.

Namun demikian, ia memaklumi pandemi harus segera dicegah bersama. Maka banyak relawan terlibat penyemprotan cairan tersebut.

“Ini cairan kan enggak bisa sembarangan, kita terbiasa pakai Alat Pelindung Diri (APD) dan perusahaan yang menjadi anggota ASPPHAMI memiliki izin dan didukung tenaga profesional dan bersertifikat. Banyak relawan yang nyemprot, ya kita maklumi,” katanya.

“Kami ASPPHAMI bersama anggota yang ada di 34 provinsi siap mendukung dan bersama-sama dengan pemerintah pusat maupun daerah untuk perencanaan dan pengendalian populasi nyamuk DBD sehingga Indonesia terhindar dari KLB (kejadian luar biasa) demam berdarah, seperti yang pernah terjadi di tahun sebelumnya,” imbuhnya.

Sumber: banjarmasin.tribunnews

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.